


Udara cerah malam itu, langit sedikit terlihat biru. Dari 21 peserta yang mendaftar hingga pukul 19.00 WIB telah berkumpul sejumlah 19 peserta lampah ratri. Prosesi awal seperti biasanya yaitu berkumpul bersama membentuk lingkaran di depan Gereja Santo Petrus Kanisius Ngestiharjo, berdoa bersama memohon keselamatan dalam perjalanan.
Pukul 19.00 WIB peserta lampah ratri mulai berangkat meninggalkan gereja. Beberapa teman saling mengobrol dan ada salah satu celetukan yang menarik, "Perjalanan wingi neng pajangan udarane sejuk ya, soale bar udan". Tiba-tiba terdengarlah suara gludug mengelegar. Ternyata alam mendengarkan dan perjalanan baru sampai jeblog, selatan nitiprayan langsung mak bress hujan deras. Bermantol dan berpayungan, terus melanjutkan perjalanan tanpa pantang surut semangatnya hingga tiba di Nayu ada sebuah kejadian seorang peserta kehilangan hp saat memakai mantrol di jeblog. Langsung tim penjaring yaitu mas Andrias yang memakai motor selekasnya bergerak menuju lokasi hp yang tertinggal dan untungnya hp masih ditempat. Terimakasih tim penjaring wilayah yang selalu menemani umat yang sedang melakukan lampah ratri. Sebelum tugu lilin bangun jiwo, tim penjaring mas Klathak, mas Konthet dan mas Thomas, membagikan lampu kelap kelip ke sejumlah peserta karena setelah tugu lilin, jalan yang akan dilalui peserta lampah ratri minim penerangan sehingga sangat rawan bagi pejalan kaki ketika ada motor atau mobil lewat tidak kelihatan makanya setiap peserta diberikan lampu kelap kelip sebagai penanda pengguna lain bahwa ada orang yang sedang jalan kaki. Sesampai ditugu sebelah barat tugu lilin, peserta lampah ratri beristrirahat sejenak, kurang lebih saat itu pukul 21.00 WIB. Beristirahat sejenak membuka bekal dan makan camilan bersama. Harapannya hujan agak mereda namun rupanya menjadi semakin deras. Perjalanan ini terus berlanjut.
Inilah perjalanan yang sesungguhnya, banyak tempat yang gelap dan kanan kiri penuh gerumbulan pepohonan, beberapa kuburan disamping jalan. "kira-kira kurang 3 km lagi", kata mas gamblis yang menjadi tim survey kemarin. Istirahat kembali sebelum masuk jalan alternatif terdekat melalui jalan kampung. Saat buka bekal rupanya ada motor yang ikut menepi membawa jahe anget satu termos dan rupanya mas Yoyok dan mas Samoel. Sebagai Prodiakon, mereka terpaksa harus mengikuti Gladibersih untuk Misa Rabu Abu di Paroki Administratif Brayat Minulya Wirobrajan setelah itu langsung menyusul rombongan lampah ratri. Sungguh luar biasa. Perjalanan dilanjut kembali melalui jalan perkampungan konblok, jalan sangat licin, naik turun dan harus super hati-hati.
Dan akhirnya sekitar pukul 00.54 WIB sampailah kita di Taman Doa Metes. Peserta mulai ganti baju, ganti sarung, ganti jaket. Setelah itu didepan samping Gua Maria, menghadap air terjun kita mulai mengadakan doa bersama sebagai ungkapan syukur, memanjatkan permohonan pribadi dan menyampaikan 2 ujub permohonan dari umat :
Memohon kelancaran transplanstasi ginjal salah satu umat wilayah kami.
Memohon kesembuhan Ibu Yuni, istri salah satu peserta lampah ratri.
Pengalaman refleksi yang dapat kita petik bersama ini saat pertamakali kami tiba, langsung disambut dengan pemandangan yang sangat indah yaitu Sebuah Gua Maria berdiri kokoh disamping air terjun yang mengalir deras. Kedua, kita disambut beberapa umat metes yang sudah mengetahui kegiatan kami dengan menyediakan kopi panas, gedang godog. Selain itu juga menyediakan air bersih, piring, sendok serta panci untuk memasak mie rebus. Sungguh perjalanan lampah ratri ini banyak sekali tangan-tangan malaikat yang menyertai perjalanan ini. Terimakasih Tuhan. (soji)

Leave a Reply